YOGYAKARTA, JOGPAPER.NET — Empat mahasiswa Program Studi Doktor Rekayasa Industri (DRI), Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia (FTI UII) Yogyakarta melakukan reseach collaboration dengan Tokyo University dan Ibaraki University Jepang. Mereka adalah Ahmad Padhil, Rininta Hanum, Novrianty Rizky, dan Rangga Primadasa.
Demikian diungkapkan Prof Dr Ir Elisa Kusrini, MT, CPIM, CSCP, SCOR_P, Ketua Program Studi Doktor Rekayasa Industri, FTI UII di Yogyakarta, Selasa (18/3/2025). Reseach collaboration ini merupakan salah satu program kerjasama internasional untuk menguatkan kemampuan riset dan jejaring internasional Program Studi DRI UII. “Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman berharga untuk meningkatkan riset kelas dunia,” kata Elisa Kusrini.
Lebih lanjut Elisa Kusrini menjelaskan Ahmad Padhil dan Rininta Hanum, telah terpilih pada awal Bulan Februari 2025 lalu. Keduanya bekerjasama dengan supervisor Prof Shigeki Takeda dari Ibaraki University. Sedangkan Novrianty Rizky dan Rangga Primadasa menyusul dan terpilih pada pertengahan Bulan Maret 2025.
Novrianty Rizky, kata Elisa Kusrini, melakukan penelitian berjudul “A Green Hydrogen Supply Chain Design with Multi-Feedstock and Renewable Energy: A MILP-Based Case Study in Japan,” dengan supervisor Assoc Prof Muhammad Aziz dari University of Tokyo. Sedang Rangga Primadasa juga berkolaborasi dengan Prof Muhammad Aziz dari University of Tokyo dan penelitiannya tentang Faktor-Faktor Penting dalam Keberhasilan Rantai Pasokan Hidrogen Hijau di Indonesia.
Penelitian Novrianty Rizky, tambah Elisa, bertujuan mengembangkan model optimasi dalam rantai pasok green hydrogen. Fokus utama penelitian ini adalah minimasi total biaya sistem dan emisi karbon. Rantai pasok yang dikaji dalam penelitian ini mengadopsi multi-feedstock, mencakup batu bara, limbah plastik, dan biomassa, serta memanfaatkan sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan solar cell.
“Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi para pengambil keputusan dalam manajemen rantai pasok dan memberikan masukan strategis bagi regulator (Pemerintah Jepang) dalam mengembangkan kebijakan terkait rantai pasok hidrogen hijau,” kata Elisa.
Sedang Rangga Primadasa, kata Elisa, menyoroti masih rendahnya Indonesia memproduksi Hidrogen Hijau, setiap tahunnya hanya 51 ton. Padahal Hidrogen Hijau merupakan salah satu enegi baru terbarukan yang sangat menarik dalam dekarbonisasi atau pengurangan emisi karbon.
Hasil penelitian Rangga Primadasa, tambah Elisa, diharapkan agar Indonesia bisa melakukan transisi energi menggunakan Hidrogen Hijau (green hydrogen) untuk keseluruhan rantai pasoknya. Karena itu, penelitian ini bertujuan mendapatkan variabel untuk menyusun strategi yang tepat.
Penelitian ini fokus pada mengidentifikasi faktor-faktor penentu keberhasilan rantai pasokan hidrogen hijau. Selanjutnya, menyusun hubungan sebab-akibat menggunakan DEMATEL, dan menyusun hubungan antar faktor dalam format struktural menggunakan Interpretative Structural Modeling (ISM).
Terakhir mengelompokkan setiap faktor menggunakan Driving-Dependence Power atau yang sering disebut analisis MICMAC. “Strategi usulan transisi Indonesia menuju implementasi rantai pasok Hidrogen Hijau akan diberikan pada akhir penelitian,” kata Elisa. (*)